Allah swt., berfirman dalam Surat Al Nahl (16) ayat 78
وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
شَيۡا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡئدةَ
لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati, agar kamu bersyukur.
Jika manusia tidak mengetahui apa pun maka korelasinya tentunya tidak
dapat melakukan apa pun. Allah swt., Maha Sembada dengan
menganugerahkan segala perangkat yang dibutuhkan manusia untuk menjalani
kehidupan dengan segala dinamika yang ada. Saat manusia dapat melakukan
dan meraih apa yang diinginkan, semestinya memahami modal yang telah
diberikan. Rasa tahu diri, harus menghasilkan rasa introspeksi dan mawas
diri, apakah yang dilakukan, diucapkan dan dicanangkan telah sesuai
dengan hujjah yang ada dalam Al Qur’an.
Al Qur’an di hari kiamat bagi diri kita akan menjadi salah satu dari
dua fungsi al Qur’an, apakah menjadi hujjah ataukah menjadi penghujjah
kita. Keuntungan jika menjadi hujjah dan kecelakaan jika menjadi
penghujjah kita.