Sinopsis :
Suku Bugis dan Bajo sekalipun sebagai suku pendatang di Labuhan Bajo, mereka sangatlah eksis berjuang dan mempertahankan identitas mereka. Bahkan mereka lebih eksis dibanding dengan suku pribumi di Manggarai Barat. Hal ini tentunya tidak lepas dari motivasi dari suku Bugis dan Bajo dalam mempertahankan diri mereka sebagai sebuah suku pendatang. Mereka adalah sebagian besar merupakan orang-orang buangan atau menghindari dari konflik di asalnya. Sehingga membuat mereka bermigrasi dengan melakukan passompe (berniaga), dan jika belum berhasil mereka tidak akan pulang. Hal ini memberi daya motivasi agar mereka selalu eksis mempertahankan diri dan mereka menjadi penghubung atas kelangkaan sumber daya pada suatu tempat sehingga mereka menciptakan ketergantungan dan menjadikan sukunya sebagai suku yang sangat diperlukan. Dengan demikian mereka dengan mudah diterima di di berbagai bert tempat, kemudian kemudia mereka membentuk kelompok- kelompok sebagai suku yang memiliki persamaan kepentingan. Sehingga secara perlahan mereka eksis dalam perekonomian, dan bidang politik setempat. Hal ini adalah sebuah perjuangan identitas dari suku Bugis dan Bajo yang membentuk identitas positif sukunya. Sehingga dibeberapa tempat orang-orang dari suku Bugis dan Bajo justru menjadi pemimpin di tempat migrasi mereka, seperti kasus yang terjadi di Labuhan Bajo, mereka menjadi pemimpin setempat dengan sebutan Lolo Bajo yang menguasai wilayah pelabuhan Labuhan Bajo pada masa lalu.
Deskripsi Buku :
Nama Penulis : I Putu Kamasan Sanjaya, I Wayan Rupa, Made Ayu Diah Indira Virgiastuti Tangkas
Nama Penerbit : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, Kepel Press
ISBN : 978-602-356-212-1
Tahun : 2018