Dilihat 454 | 0 Terjual
Seorang lelaki tua mendengar dentuman cukup keras. Saking kerasnya
membuat ia terbangun dari tidurnya. Ia segera mengecek keluar, namun
tidak ada satu keanehan pun yang ia saksikan. Semuanya berjaan normal
seperti biasa. Hal itu membuatnya bingung. Dentuman keras apakah itu?
Lelaki tua itu melewatkan sebuah kegiatan rutinnya tiap hari:
menonton berita pada hari itu. Ia pun tetap memutar televisi berharap
masih ada berita yang ia dapatkan, apalagi mengenai dentuman yang cukup
keras itu. Namun, suatu kala ia mendengar sebuah berita Seorang kakek didapatkan dalam keadaan tak bernyawa di kediamannya…”
sontak saja ini membuatnya lebih terkaget. Ia hanya tinggal seorang
diri. Tanpa siapa pun. Tidak dengan tetangga sekali pun. Lelaki tua itu
jarang bergaul. Ia membayangkan dirinyalah yang ada dalam berita itu.
Tak berapa lama sayup-sayup dan mulai mengencang suara dari masjid dekat rumahnya. Innalillahi wa innailahi roji’un, telah berpulang ke rahmatullah, saudara kita Bapak Khairun.
Sontak saja, pengumuman itu seperti bom molotov yang menghujam
jantungnya dan itu sangat keras. Itu bukan karena Pak Khairun itu
kerabatnya, tapi karena pengumuman itu kembali mengingatkannya tentang
kematian yang seorang diri. Lelaki tua itu pun tak mau lagi mendengar
berita atau pengumuman apapun. Apa yang dilakukan lelaki tua itu lagi?
Bisakah ia melewati itu semua?
***
Kutipan di atas adalah sekelumit peristiwa dalam cerpen “Lelaki yang
Menjual Hidupnya” dan terdapat empat belas cerpen lainnya yang mayoritas
menceritakan kisah seorang lelaki.
Lebih banyak
Tentang Buku
155
Halaman
155
Menit
21.427
Kata
Judul : LELAKI YANG MENJUAL HIDUPNYA
Pengarang : Zul Adrian Azizam
Ukuran : 19 cm x 13 cm
Tebal : 155 Halaman
ISBN : 798-623-9187-81-1
Lebih banyak
Penerbit Adab
0
Terjual
0
Lencana