Kata Pengantar
Para pengikut Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdil Wahhab adalah orang-orang yang paling getol menyematkan kata “bid’ah” (tabdi’), “sesat” (tadzlil), “fasiq” (tafsiq) terhadap perkara apapun; hanya karena perkara tersebut tidak ada di zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Tidak segan mengatakan bahwa semua perkara semacam itu tempatnya adalah neraka. Saklek, mereka mengatakan setiap pelaku bid’ah adalah orang sesat, dan setiap orang sesat bertempat di neraka. Timbul pertanyaan sederhana; apakah mereka berani mengatakan Ibnu Taimiyah seorang yang sesat? Bukankah Ibnu Taimiyah orang yang pertamakali merintis pembagian tauhid kepada Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma’ wa ash-Shifat?
Lebih luas akan kita bahas dalam buku ini sesungguhnya apa yang menjadi latar belakang Ibnu Taimiyah membuat pembagian tauhid kepada tiga bagian ini. Sesungguhnya tumpuan dan pondasi pokok dari ajaran-ajaran Ibnu Taimiyah adalah berangkat dari pemahaman tiga tauhid ini. Faham ekstrim apapun dari Ibnu Taimiyah, seperti pernyataannya bahwa Allah punya bentuk dan ukuran, Allah bersifat dengan sifat-sifat benda; seperti gerak, turun, naik, datang, bertempat, duduk, dan lainnya, lalu pernyataannya bahwa Allah memiliki anggota-anggota badan, kemudian pernyataan ektrim lainnya; seperti bahwa perjalanan (safar) untuk tujuan ziarah ke makam Rasulullah adalah perjalanan maksiat sehingga tidak boleh melakukan qashar shalat karenanya, juga pernyataan Ibnu Taimiyah bahwa tawassul dan tabarruk dengan para Nabi atau para Wali adalah perbuatan syirik, dan berbagai faham ekstrim lainnya; semua itu sesungguhnya kembali kepada pemahaman pembagian tauhid kepada Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma’ wa ash-Shifat ini.
Para ulama kita yang hidup semasa dengan Ibnu Taimiyah dan Muhammad ibn Abdul Wahhab, atau yang datang sesudah keduanya, telah banyak menuliskan bantahan terhadap faham-faham ekstrim keduanya. Seandainya para ulama kita dahulu mengetahui betapa besar akibat dari faham yang dirintis oleh Ibnu Taimiyah dan Muhammad ibn Abdul Wahhab di kemudian hari setelah masa mereka; maka tulisan-tulisan bantahan dari para ulama kita akan jauh lebih banyak dan lebih kuat lagi terhadap berbagai faham dua orang kotroversial ini.
Allah A’lam.
Kholil Abu Fateh
Al-Asy’ari asy-Syafi’i ar-Rifa’i al-Qadiri