Membaca buku ini, kita akan dihenyakkan tentang kisah pilu seorang
pelajar yang harus menerima keadaan ketika mendapati matanya tak
berfungsi lagi.
Dengan perasaan ragu akhirnya si pemuda ini memutuskan untuk sekolah
di SLB atas saran seorang guru SLB. Dalam perjalanannya dia berpikir
untuk kuliah dan mengajar di SLB tempatnya belajar. Bolehkah si pemuda
ini mengajar di sana?
Dari buku ini, kita juga bisa berkelana saat masih kecil dan dididik
orang tua untuk bisa nandur atau menanam, dhangir atau menyiangi hingga
memanen aneka palawija. Tak jarang tangan lecet oleh gathul.
Penasaran dengan kisahnya? Yuk kita baca karya seorang pendidik SLB Negeri 1 Gunungkidul ini! Banyak kisah lainnya juga lho!
Selamat membaca!
(Zahrotul Mujahidah, pendidik di SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul dan Kompasianer)
Seru membaca kumpulan cerpen ini. Ceritanya singkat, memakai bahasa
sederhana yang mudah dipahami segala usia. Gaya penceritaan yang
digunakan sebagai orang pertama, mampu membuat pembaca terhanyut dalam
suasana yang ingin diceritakan penulis.
Beberapa cerpen,di bagian akhirnya, tertulis tentang sesuatu yang
bisa dipelajari, dari segala hal buruk pasti ada dampak baiknya.
Cerita yang membuatku meneteskan air mata, cerpen berjudul, Anakku,
Ibu mendoakanmu. Serasa aku sebagai seorang ibu, yang awalnya putus asa
dengan masa depan anak yang tunanetra, namun melihat ada sinar terang
untuk masa depan putriku. Aku jadi semakin yakin, Sang Pencipta pasti
punya rencana indah untuk setiap ciptaan-Nya.
Kumpulan cerpen ini sangat direkomendasikan untuk materi pembelajaran
di sekolah atau dongeng sebelum tidur. Selamat membaca dan berkarya.
(Dina Kurnia Restanti, pendidik di SLB Negeri 1 Gunungkidul dan penulis)