Secara sosiologis, tradisi ela-ela menjadi penanda puasa
akan segera temaram dan berakhir. Pada konteks ini, tradisi ela-ela kemudian
dihela sebagai agenda struktur (Pemerintah Kota) yang garing. Ada upaya
kulturisasi-struktur, dengan melombakan tradisi ela-ela secara massif. Ini
suatu perpaduan yang hebat. Ada konsekrasi, suatu praktik yang memasuki wilayah
keagamaan yang sakral. Yang boleh jadi akan memberikan tuntunan menguatkan
nilai-nilai simbolik tersebut.
Namun kemudian, terjadi transformasi. Untuk membumikan
nilai-nilai Lailatul Qadar, tradisi ela-ela kemudian dihela dalam bentuk
perlombaan. Dalam beberapa tahun terakhir, kecuali tahun ini (2020), karena
situasi pandemi, lomba ela-ela ditiadakan. Tetapi warga masyarakat Kota Ternate
khususnya, tetap melaksanakan tradisi ini yang dikenal dengan Malam Ela-Ela.
"Apakah dengan menggeser tradisi ela-ela yang
dikapitalisasi dalam format lomba atau apa namanya, mampu membumikan
nilai-nilai tradisi ini?" Dengan stand point ini, memperlihatkan bahwa
tradisi ela-ela mengalami transformasi nilai dan bentuk. Tradisi ela-ela
merupakan representasi jalinan makna koeksistensi terdalam, ada dialektika
antara nilai tradisi yang telah hidup di masyarakat dengan nilai-nilai Islam
yang transenden dan profetik untuk menjemput cahaya langit.
Buku Karya Sofyan Warad Umar berjudul Tafsir Malam Ela-Ela;
Narasi Falsafah Relijius Manusia Moloku Kie Raha, yang berisi empat bagian,
kiranya dapat memberikan kita pemahaman yang lebih luas tentang tradisi ela-ela
ini. Buku ini, kiranya dapat memperkaya khazanah pengetahuan tentang Maluku Utara.
Selamat membaca.