Mata yang indah, kini sembab. Mata yang bening, dipenuhi awan hitam.
Mengalirkan luka, memenuhi hati dan jiwa. Mentari berdiri di depan panti
asuhan. Di kota yang sangat asing. Ia
terbuang karena virus HIV. Keluarganya kehilangan kekerabatan dan
nurani.
Tuhan, kemana kaki ini akan melangkah. Mengapa jalanku penuh onak dan
duri. Tuhan, aku masih sangat kecil. Usiaku baru tiga belas tahun. Mengapa
diskriminasi melukaiku. Kutatap lagi panti asuhan yang berdiri megah. Hingga
kuputuskan berjalan masuk. Aku tidak punya pilihan, perutku lapar,
tenggorokanku kering. Kulitku terpanggang matahari. Aku butuh tempat berteduh, aku harus tetap
hidup.
Stigma membuat Mentari
memutuskan pergi. Kemana, ia tidak tahu….. Jantungnya tak lagi berdetak. Ketika
kembali terjatuh dan tak lagi bernafas, Tuhan mengirim dewa penolong. Seorang
laki-laki yang mengorbankan hidupnya untuk Mentari.
Mentari mulai melukis
sketsa kehidupan dalam kanfas imajinasi. Merenda impian yang hilang. Lalu berjalan menantang badai kehidupan,
menaklukan Jakarta agar bisa berdiri di atas podium yang megah untuk membuka
mata keluarganya yang sudah membuangnya. Mentari ingin lukisan dan desain
busananya diperbincangkan dunia. (***)