Gangguan spektrum autisme
dalam istilah asing dikenal sebagai Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah
kategori gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan dalam
berkomunikasi atau berinteraksi sosial dan gangguan perilaku aktivitas terbatas
atau berulang serta minat yang tidak lazim.
Kebanyakan anak autis berpenampilan normal, tetapi menghabiskan waktu
mereka untuk terlibat dalam perilaku membingungkan dan mengganggu yang sangat
berbeda dari anak-anak pada umumnya.
Intervensi
terapeutik untuk anak dengan autis merupakan spesialisasi bidang keilmuan yang
melibatkan profesional dengan pelatihan lanjutan. Meskipun tidak ada obat untuk
mengatasi autis, banyak terapi telah digunakan. Hasil yang paling menjanjikan
telah dicapai melalui sangat program modifikasi perilaku yang terstruktur dan
intensif. Secara umum, tujuan pengobatan adalah untuk memberikan penguatan
positif, meningkatkan kesadaran sosial orang lain, melatih anak berkomunikasi
secara verbal dan mengurangi perilaku yang tidak wajar. Menyediakan rutinitas
terstruktur untuk diikuti anak merupakan kunci dalam manajemen anak dengan
autis. Sedikit bukti yang ada untuk
mendukung manfaat untuk sebagian besar pengobatan secara medis, contohnya
penggunaan risperidone dan aripiprazole telah menunjukkan manfaat untuk
mengatasi perilaku yang menantang dan berulang, tetapi dibatasi penggunaannya
karena efek samping ang ditimbulkannya.
Ketika anak-anak
dengan autis dirawat di rumah sakit, penting bagi orang tua untuk merencanakan
perawatan dan idealnya harus tetap banyak bersama dengan anak. Perawat harus
menyadari bahwa tidak semua anak dengan autis adalah sama, dan masing-masing
membutuhkan penilaian individu dan pengobatan. Mengurangi stimulasi dengan
menempatkan anak di kamar pribadi, menghindari mendengar sesuatu yang dianggap
asing oleh anak, gangguan visual, dan menganjurkan orang tua untuk membawa
barang-barang di mana anak melekat dapat mengurangi gangguan rawat inap. Karena
kontak fisik sering membuat kesal anak dengan autis, mengurangi kontak fisik
dan kontak mata mungkin diperlukan untuk menghindari perilaku yang agresif.
Akhirnya, semoga buku ini memberi manfaat dan keberkahan untuk penulis dan
pembaca semua, aamiin.