GMNI adalah salah satu organisasi ektra kampus yang lahir dari
peleburan tiga organisasi, di antaranya: Gerakan Mahasiswa Marhaenis
(GMM), Gerakan Mahasiswa Merdeka, dan Gerakan Mahasiswa Demokrat
Indonesia (GMDI), yang memiliki kesamaan azas yakni: Marhaenisme. Azas
Marhaenisme ini menentang segala bentuk penindasan. Memang tak banyak
orang tahu tentang azas Marhaenisme ini. Padahal, sejatinya azas ini
lahir dari pemikiran bung Karno.Tujuan bung Karno memproduksi azas
tersebut tiada lain, selain menentang penindasan juga menjadikan
Marhaenisme instrumen persatuan. Nasakom bukti konkrit bahwa bung Karno
sangat membenci perpecahan. Ia begitu mencintai persatuan “Gotong
Royong”.
Berbicara soal GMNI, GMNI bisanya dua tahun sekali melaksanakan
kegiatan Kongres dengan harapan supaya melahirkan sosok pemimpin atau
ketua umum yang bisa mambawa GMNI se –Indonesia kedepannya lebih baik.
Namun tak disangka malah dualisme yang ada. Kita semua berduka. Tak
hanya itu, bencana dualisme ini juga sangat mencekik persatuan kita.
Terkadang aku berpikir, apakah kita ini kader GMNI yang benar – benar
mewarisi api ajaran bung Karno atau sebaliknya?. Jika berGMNI mewarisi
api semangatnya Bung Karno tak mungkin kita merasa nyaman dengan
dualisme yang terjadi, dan tak mungkin pula menikmati adanya perpecahan
ini. Dalam hal ini rasanya kita ini tak pantas mememikkan salam
perjuangan – merdeka, gmni jaya, dan marhaen menang, keluar dari mulut
kita. Karena kata – kata (jargon) GMNI tersebut terlalu suci. Kita
sebagai Pejuang Pemikir – Pemikir Pejuang sudah sepatutnya mewujudkan
kata merdeka (sosalisme indonesia dalam praktik), GMNI jaya, dan marhaen
menang dalam real life. Namun hal itu harus dimulai dengan hal sangat
mendasar yaitu persatuan.
Maka dari itu, insaflah!Kembalikan GMNI kepada arah perjuangan
sesungguhnya. Galakkan working ideologi. Akhiri dualisme. Ini tugas
kita, ini PR kita. Mari kita buka lembaran baru. Kita melangkah bersama,
berjuang bersama, dan pokoknya kita harus bersatu, seperti kata bung
Besar “Entah bagaimana tercapainya persatuan itu, entah bagaimana
rupanya persatuan itu, akan tetapi kapal yang membawa kita ke Indonesia
Merdeka itulah Kapal Persatuan adanya”. Lagian kalau kita tidak ingin
bersatu mau ngapain juga? Kata bung Karno, kita belum hidup dalam sinar
bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat
elang rajawali.