Paradigma pendidikan agama Islam lebih cenderung mengorientasikan diri pada bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial, padahal
sains (fisika, kimia, biologi dan matematika) modern dan pengembangan teknologi canggih mutlak diperlukan.
Sains
ini belum mendapat apresiasi dan tempat yang sepatutnya dalam sistem
pendidikan Islam, artinya integrasi pendidikan Islam dalam prespektif
trasnformasi menuju pendidikan Islam berkualitas memadukan
sains,
spiritual
dengan pendidikan karakter sebagai ciri khas suatu bangsa mutlak
diperlukan. Pendidikan dalam agama Islam sendiri merupakan integrasi
antara kekuatan akal (rasional), empiris, dan bersumber pada wahyu yang
berasal dari Al-Qur’an dan Hadits.
Esensi dari pendidikan adalah adanya proses transfer nilai,
pengetahuan dan keterampilan kepada generasi muda agar mampu meraih
hidup sukses masa depan. Dalam ajaran Islam ditegaskan bahwa pendidikan
hendaknya memberi penyadaran potensi fitrah keagamaan, menumbuhkan,
mengelola dan membentuk wawasan, akhlak serta tingkah laku yang sesuai
dengan ajaran Islam, menggerakkan dan menyadarkan manusia untuk
senantiasa beramal saleh dalam rangka beribadah kepada Allah, hal ini
sebagaimana yang terungkap dalam Q.S Luqman: 1-34. Dan seiring dengan
pekembangan zaman, tantangan yang dihadapi umat Islam semakin kompleks.
Maka paradigma berfikir dan konsep penerapan pendidikan agama Islam
harus beradaptasi dengan pekembangan zaman yang ada.